Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Illiza dan Semangat Banda Aceh Kolaborasi di Balik Silver IMT-GT Green City Award

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menerima Silver IMT-GT Green City Award untuk pengelolaan sampah, sebuah momentum untuk memperkuat kolaborasi dan pembangunan kota berkelanjutan.

Sebuah penghargaan sering kali menjadi penanda atas apa yang telah dilakukan. Namun bagi Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, Silver Award yang diterima dalam ajang 1st IMT-GT Green City Award justru dipandang sebagai dorongan untuk melangkah lebih jauh.

Illiza menerima penghargaan kategori Solid Waste Management – Silver Award dalam rangkaian Gala Dinner 32nd IMT-GT Ministerial Meeting and Related Meetings di Ballroom JW Marriott Hotel Medan, Rabu malam, 9 September 2026. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah bin Mohd. Nasir.

Dalam kategori yang sama, Manjung Municipality dari Malaysia memperoleh Gold Award, sementara Pekanbaru City dari Indonesia memperoleh Bronze Award. Bagi Banda Aceh, penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas upaya pengelolaan sampah dan pembangunan kota yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

SPONSORED VIDEO
Tertarik dengan penawaran ini?Pilih Lihat Detail atau langsung Hubungi Kami.

Sebuah Penghargaan yang Membawa Tanggung Jawab

Di balik sebuah piala dan sertifikat, terdapat pekerjaan panjang yang harus terus dilanjutkan. Itulah cara Illiza memaknai penghargaan tersebut.

Ia menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus melakukan pembenahan. Menurutnya, pengelolaan sampah bukan persoalan yang dapat diselesaikan oleh pemerintah seorang diri. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan memiliki peran dalam membangun sistem pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Pandangan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Banda Aceh dalam membangun apa yang disebut sebagai semangat “Banda Aceh Kolaborasi”. Bagi Illiza, berbagai persoalan kota membutuhkan keterlibatan banyak pihak karena pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri.

Di sinilah sebuah penghargaan memperoleh makna yang lebih luas. Recognition bukan sekadar tentang pencapaian yang telah dilalui, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pekerjaan setelah pengakuan diberikan.

Ketika Pengelolaan Sampah Menjadi Misi Bersama

Persoalan sampah sering kali terlihat sederhana karena hadir dalam aktivitas sehari-hari. Namun di baliknya terdapat rangkaian persoalan yang berkaitan dengan perilaku masyarakat, layanan publik, infrastruktur, edukasi, partisipasi dunia usaha, hingga tata kelola pemerintahan.

Karena itu, pendekatan kolaboratif menjadi penting. Ketika masyarakat memiliki kesadaran untuk mengelola sampah, dunia usaha ikut mendukung praktik yang lebih ramah lingkungan, komunitas menjalankan edukasi, dan pemerintah memastikan kebijakan serta layanan berjalan, maka pengelolaan sampah dapat menjadi gerakan bersama.

Pesan inilah yang menjadi salah satu bagian penting dari narasi Banda Aceh setelah menerima penghargaan. Illiza menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat menyelesaikan persoalan kota sendirian dan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Semangat tersebut membuat penghargaan yang diterima Banda Aceh tidak berhenti pada seremoni. Ia dapat menjadi momentum untuk mengajak lebih banyak pihak melihat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Dari Banda Aceh untuk Jejaring Regional

IMT-GT Green City Award sendiri dirancang sebagai platform untuk mengenali kota-kota yang menunjukkan komitmen terhadap pembangunan perkotaan yang lebih hijau, inklusif, dan tangguh terhadap perubahan iklim. Program tersebut juga bertujuan mendorong pertukaran praktik terbaik serta memperkuat kerja sama antarkota di kawasan IMT-GT.

Kerangka penghargaan mencakup sejumlah bidang, mulai dari transportasi berkelanjutan, energi, pengelolaan sampah, keanekaragaman hayati, ekonomi sirkular, tata kelola karbon dan iklim, hingga pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan.

Dengan demikian, perjalanan Banda Aceh tidak berdiri sendiri. Pengalaman yang dimiliki kota dapat menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan dengan kota-kota lain di Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang berada dalam kawasan IMT-GT.

Bagi Illiza, momentum tersebut juga dapat memperkuat posisi Banda Aceh dalam jejaring kota yang berkomitmen terhadap pembangunan bersih, hijau, berkelanjutan, dan kompetitif.

Penghargaan Bukanlah Garis Akhir

Ada satu pesan yang menjadi penting setelah Banda Aceh menerima Silver Award: perjalanan belum selesai.

Illiza menyatakan bahwa Banda Aceh tidak boleh berhenti pada penghargaan. Justru, penghargaan tersebut harus menjadi tantangan untuk bekerja lebih baik dan meningkatkan capaian pada masa mendatang.

Pesan tersebut sejalan dengan kerangka IMT-GT Green City Award yang tidak hanya melihat hasil, tetapi juga keberlanjutan, inovasi, dampak, potensi penerapan atau pengembangan di tempat lain, serta tata kelola dan partisipasi. Program yang diajukan juga harus telah berjalan setidaknya tiga tahun berturut-turut, tetap aktif, dan menunjukkan hasil yang terukur.

Artinya, tantangan setelah penghargaan justru berada pada bagaimana mempertahankan konsistensi. Program harus terus berjalan, kualitas pelayanan perlu ditingkatkan, masyarakat tetap dilibatkan, dan inovasi perlu dikembangkan sesuai kebutuhan kota.

Menjaga Semangat, Melanjutkan Perjalanan

Bagi Banda Aceh, Silver Award IMT-GT Green City Award dapat menjadi satu halaman penting dalam perjalanan pembangunan kota. Namun halaman tersebut bukanlah akhir dari sebuah cerita.

Ada pekerjaan yang masih harus dilakukan. Ada masyarakat yang perlu terus diajak berpartisipasi. Ada dunia usaha dan komunitas yang dapat dilibatkan lebih jauh. Ada pula pengalaman yang dapat dibagikan kepada kota-kota lain melalui jejaring IMT-GT.

Di tengah tantangan pembangunan perkotaan yang semakin kompleks, keberlanjutan tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga konsistensi dan kesediaan untuk bekerja bersama.

Karena itu, pesan Illiza tentang Banda Aceh Kolaborasi menjadi relevan untuk melihat makna penghargaan ini. Kota yang berkelanjutan bukan hanya dibangun melalui keputusan pemerintah, tetapi juga melalui kontribusi masyarakat yang hidup di dalamnya.

Silver Award yang diterima Banda Aceh pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah penghargaan di atas panggung. Ia menjadi pengingat bahwa setiap capaian membawa tanggung jawab baru: menjaga apa yang telah dilakukan, memperbaiki kekurangan, dan terus mencari cara agar kota dapat tumbuh dengan lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan.

Bagi Illiza, perjalanan tersebut masih berlanjut. Dan bagi Banda Aceh, penghargaan ini dapat menjadi energi baru untuk memperkuat semangat kolaborasi dalam menghadirkan kota yang semakin baik bagi masyarakatnya.

Share to: