Kisah Griselda Nuria Alisha, siswi MAN 1 Kota Malang yang membawa DJOGOSURO ke WSDG 2026 Malaysia dan meraih penghargaan melalui inovasi mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.
MALANG — Sebuah inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium besar atau institusi teknologi. Terkadang, sebuah gagasan justru tumbuh dari lingkungan terdekat, dari cerita yang diwariskan masyarakat, hingga persoalan yang benar-benar ada di sekitar kehidupan sehari-hari.
Perjalanan tersebut tergambar dalam karya DJOGOSURO yang dikembangkan Griselda Nuria Alisha, siswi kelas XII-K MAN 1 Kota Malang. Berangkat dari kearifan lokal masyarakat sekitar Gunung Kelud, Griselda mengembangkan gagasan edukasi mitigasi erupsi dengan memadukan cerita Lembu Suro, Cinematic Virtual Reality, dan website.
Karya tersebut kemudian dibawa ke panggung internasional melalui World Sustainable Development Goals Challenge (WSDG) 2026 di Multimedia University (MMU), Cyberjaya, Malaysia. Dalam ajang yang berlangsung 24–28 September 2026 itu, Griselda berhasil memperoleh MMU President’s Excellence Award – 2nd Runner-Up. (timesindonesia.co.id)
Ketika Cerita Lokal Menjadi Gagasan Inovasi
DJOGOSURO dikembangkan melalui karya berjudul “DJOGOSURO: Education Based on Local Wisdom Using Lembu Suro Cinematic VR and Website to Enhance Preparedness for Volcanic Eruption Disaster Mitigation.”
Di balik nama tersebut terdapat pendekatan yang sederhana namun memiliki konteks kuat. Lembu Suro yang dikenal dalam cerita masyarakat sekitar Gunung Kelud dijadikan pintu masuk untuk menyampaikan edukasi mengenai mitigasi bencana.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa budaya lokal dapat memiliki ruang dalam perkembangan teknologi pendidikan. Cerita dan identitas masyarakat tidak harus ditempatkan berlawanan dengan teknologi. Keduanya justru dapat dipertemukan untuk membangun cara penyampaian informasi yang lebih kontekstual.
Dalam pengembangannya, DJOGOSURO menggunakan teknologi Cinematic VR dan website sebagai media pembelajaran. Informasi yang tersedia mengenai proyek tersebut juga menyebutkan adanya materi edukasi, animasi, kuis, serta simulasi yang berkaitan dengan aktivitas gunung dan langkah mitigasi erupsi. (ikoneksi.com)
Sebuah Perjalanan yang Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Bagi Griselda, inovasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan pendidikan yang lebih luas. Sebagai pelajar, ia tidak hanya berhadapan dengan tugas akademik, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan gagasan yang berangkat dari lingkungan sekitarnya.
Pengalaman organisasinya turut menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Griselda sebelumnya dipercaya sebagai Ketua OSIS MAN 1 Kota Malang periode 2025/2026. Pengalaman dalam organisasi sekolah memberikan ruang baginya untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, dan mengambil tanggung jawab. (timesindonesia.co.id)
Kemudian, gagasan yang berkembang dari lingkungan pendidikan tersebut memperoleh kesempatan untuk diperkenalkan kepada peserta dari berbagai negara melalui WSDG 2026.
Dalam konteks tersebut, penghargaan yang diterima bukan hanya menjadi catatan prestasi pribadi. Ia juga menjadi bagian dari perjalanan sebuah gagasan dari Malang menuju forum internasional.
Pengakuan di Malaysia
Puncak perjalanan tersebut terjadi pada seremoni penghargaan WSDG 2026 yang digelar pada 26 September 2026 di Tun Chancellor Hall, Multimedia University.
Griselda menerima piala, medali, dan hadiah sebesar RM850 setelah meraih posisi 2nd Runner-Up untuk kategori penghargaan yang diberikan oleh MMU President. Sertifikat penghargaan juga mencatat apresiasi terhadap kreativitas, inovasi, dedikasi, dan komitmen yang ditunjukkan melalui solusi yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals. (timesindonesia.co.id)
WSDG 2026 sendiri menjadi ruang bagi peserta muda untuk mempertemukan ide dengan persoalan pembangunan berkelanjutan. Dalam pidatonya pada 25 September 2026, Resident Coordinator PBB untuk Malaysia, Nikolas Myint, menekankan pentingnya mengubah gagasan yang muncul di ruang kelas menjadi aksi yang memiliki hubungan dengan dunia nyata. (malaysia.un.org)
Pesan tersebut memiliki relevansi dengan perjalanan DJOGOSURO. Gagasan yang awalnya berangkat dari persoalan kebencanaan di sekitar Gunung Kelud kemudian memperoleh kesempatan untuk dipresentasikan dalam lingkungan internasional.
Dari Prestasi Menuju Tanggung Jawab Pengembangan
Sebuah penghargaan tentu menjadi bentuk pengakuan atas karya yang telah dikembangkan. Namun, perjalanan sebuah inovasi tidak berhenti pada saat penghargaan diterima.
DJOGOSURO masih memiliki ruang untuk terus dikembangkan, terutama dalam hal pengujian dan evaluasi penggunaan. Materi yang tersedia mengenai proyek ini belum menunjukkan pengukuran kuantitatif mengenai perubahan tingkat kesiapsiagaan pengguna setelah menggunakan media tersebut.
Karena itu, dampak jangka panjang DJOGOSURO masih menjadi bagian yang dapat diteliti dan dikembangkan. Pengujian kepada pengguna, evaluasi pemahaman, penyempurnaan konten, serta pengembangan teknologi dapat menjadi tahapan berikutnya untuk melihat sejauh mana pendekatan tersebut dapat digunakan secara lebih luas.
Hal tersebut justru menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah inovasi. Penghargaan dapat menjadi titik pengakuan, sementara proses evaluasi dan pengembangan menjadi bagian dari perjalanan untuk memastikan sebuah gagasan memiliki manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mengajarkan Bahwa Inovasi Bisa Berawal dari Sekitar
Kisah DJOGOSURO membawa sebuah pesan penting bagi lingkungan pendidikan. Inovasi tidak selalu harus dimulai dari persoalan yang jauh dan berskala besar.
Bagi seorang pelajar yang tinggal di wilayah dengan kedekatan geografis dan budaya terhadap Gunung Kelud, persoalan mitigasi bencana merupakan sesuatu yang dapat diamati dari lingkungan sendiri. Dari sana, muncul pertanyaan mengenai bagaimana teknologi dan budaya dapat digunakan sebagai bagian dari proses edukasi.
Griselda kemudian membawa pertanyaan tersebut ke dalam sebuah karya. Lembu Suro menjadi unsur kearifan lokal, sementara Cinematic VR dan website menjadi perangkat teknologi untuk mengembangkan media edukasi.
Ketika ketiga unsur tersebut dipertemukan, lahirlah DJOGOSURO yang kemudian memperoleh kesempatan untuk tampil dalam forum internasional.
Perjalanan yang Masih Berlanjut
Prestasi di Malaysia menjadi salah satu bab penting dalam perjalanan Griselda Nuria Alisha. Namun, yang lebih penting dari sebuah penghargaan adalah proses yang berada di belakangnya: keberanian melihat persoalan, mengembangkan gagasan, memanfaatkan teknologi, dan membawa karya tersebut keluar dari lingkungan asalnya.
DJOGOSURO memperlihatkan bagaimana sebuah ide yang berakar pada budaya lokal dapat dibawa ke percakapan yang lebih luas mengenai pendidikan, teknologi, kebencanaan, dan pembangunan berkelanjutan.
Dari MAN 1 Kota Malang menuju Multimedia University di Cyberjaya, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa ruang belajar dapat berada di mana saja. Sebuah kelas dapat menjadi tempat lahirnya gagasan, lingkungan sekitar dapat menjadi sumber inspirasi, dan panggung internasional dapat menjadi ruang untuk menguji sekaligus memperkenalkan karya.
Bagi Griselda, penghargaan di Malaysia menjadi bagian dari perjalanan. Bagi dunia pendidikan, DJOGOSURO menjadi contoh bahwa pelajar dapat diberi ruang untuk mengembangkan gagasan yang berangkat dari realitas di sekeliling mereka.
Dan bagi inovasi itu sendiri, perjalanan DJOGOSURO mengingatkan bahwa teknologi akan menjadi semakin bermakna ketika digunakan untuk menjawab kebutuhan manusia, menghargai konteks budaya, dan terus dikembangkan melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan.















